TIMIKA – Kabupaten Mimika kini tengah menapaki babak baru dalam pengembangan ekonomi kerakyatan. Momentum satu tahun masa bakti kepengurusan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) yang berkolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Mimika, menjadi potret nyata bagaimana kolaborasi organisasi mampu menggerakkan roda ekonomi daerah.
Acara refleksi satu tahun pelayanan ini digelar dengan khidmat di Gedung Tongkonan, Jalan Sam Ratulangi, pada Senin (20/04/2026). Agenda ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk pertanggungjawaban publik atas komitmen pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati Mimika, Johannes Rettob, S.Sos., M.M., bersama Wakil Bupati Emanuel Kemong. Turut mendampingi, Ketua TP-PKK Kabupaten Mimika, Ny. Suzana S. Herawaty Rettob, dan Wakil Ketua TP-PKK, Ny. Periana Kula Kemong, serta jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Kehadiran para pemangku kebijakan ini menegaskan bahwa sektor kerajinan dan pemberdayaan keluarga kini menjadi prioritas dalam struktur pembangunan di Mimika.
Dalam arahannya, Bupati Johannes Rettob memberikan apresiasi yang mendalam. Ia menyoroti transformasi Dekranasda yang selama satu dekade terakhir dinilai kurang terdengar kiprahnya, namun kini berhasil menunjukkan progres yang melampaui ekspektasi.
"Dekranasda tahun ini luar biasa. Kalian sudah menunjukkan kerja nyata di mana hasil kerajinan UMKM kita kini dikenal luas, secara khusus di tingkat nasional," ujar Bupati Johannes Rettob.
Salah satu terobosan monumental yang diapresiasi adalah hadirnya 'Teras Mimika' di Jakarta. Fasilitas ini berfungsi sebagai:
Etalase Produk Utama: Menampilkan kualitas ukiran, anyaman, dan produk lokal Mimika di jantung ibu kota.
Pintu Gerbang Investasi: Memudahkan akses pembeli berskala besar untuk melihat langsung potensi kriya Papua Tengah.
Secara edukatif, keberhasilan TP-PKK dan Dekranasda dapat diukur melalui angka statistik yang konkret. Bupati mengungkapkan bahwa geliat UMKM di bawah binaan kedua organisasi ini telah berkontribusi menumbuhkan ekonomi masyarakat Mimika sebesar kurang lebih 2%.
Angka ini membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas (grassroots) memiliki dampak langsung terhadap ketahanan ekonomi daerah. Produk kerajinan Mimika kini tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi mulai diperhitungkan oleh kementerian terkait dan asosiasi kepala daerah di Indonesia.
Meski berada di atas angin, Bupati memberikan catatan edukatif bagi para pengurus dan pelaku usaha. Tantangan terbesar dalam dunia bisnis kreatif adalah menjaga keseimbangan antara permintaan pasar (demand) dan kapasitas produksi (supply).
Bupati menekankan tiga poin penting untuk masa depan UMKM Mimika:
Konsistensi Kualitas: Produk harus tetap terjaga standarnya meski pesanan meningkat.
Manajemen Produksi: Pengrajin harus dibina agar mampu memenuhi pesanan (order) dalam jumlah besar secara tepat waktu.
Garda Terdepan Sosialisasi: TP-PKK dan Dekranasda diminta tetap menjadi ujung tombak dalam mempromosikan produk daerah, bersinergi dengan Dinas Koperasi dan Dinas Pariwisata.










