TIMIKA, wartamimika.com –
Pemerintah Kabupaten Mimika mempertegas komitmennya dalam memerangi angka kasus
malaria yang masih menjadi tantangan kesehatan serius di wilayah tersebut.
Bupati Mimika, Johannes Rettob, menyatakan bahwa target besar pemerintah
adalah mencapai eliminasi malaria sepenuhnya pada tahun 2030.
Ditemui awak media usai
menghadiri kegiatan di Gedung Eme Neme Yauware, Jumat (24/4/2026), Rettob
menjelaskan bahwa strategi penanganan dilakukan secara komprehensif, mulai dari
penguatan infrastruktur hingga pembenahan sistem pendataan medis yang selama
ini dinilai belum akurat.
Menurut Rettob, upaya menekan
angka kasus telah berjalan secara berkelanjutan melalui kolaborasi dengan
pemerintah provinsi maupun program internal daerah. Beberapa langkah konkret
yang telah diimplementasikan meliputi:
- Pemberdayaan Kader: Pelatihan intensif bagi
kader malaria di tingkat akar rumput.
- Logistik Medis: Menjamin ketersediaan
obat-obatan serta pembagian kelambu secara masif.
- Pengendalian Lingkungan: Melakukan
penyemprotan (IRS) dan perbaikan infrastruktur drainase untuk
menghilangkan genangan air yang menjadi sarang nyamuk.
“Kita mau pastikan infrastruktur
kita baik, tidak ada genangan air, dan saluran harus lancar. Ini menjadi fokus
pembenahan kita tahun ini,” tegas Rettob.
Meskipun intervensi fisik terus
digalakkan, Bupati menekankan bahwa kunci keberhasilan utama berada di tangan
masyarakat. Ia menyoroti fenomena pasien yang tidak menyelesaikan siklus
pengobatan hingga tuntas, yang justru berisiko memicu resistensi dan kegagalan
eliminasi.
“Yang paling penting itu
masyarakat harus minum obat sampai habis. Banyak yang tidak tuntas, padahal
kepatuhan itu sangat menentukan dalam memutus rantai penyebaran malaria,”
ujarnya.
Secara statistik, Mimika saat ini
masih menyumbang angka yang cukup signifikan, yakni sekitar 30 persen
dari total kasus malaria nasional. Kondisi ini menjadikan Mimika sebagai pusat
penelitian malaria global. Namun, Rettob mensinyalir adanya anomali data akibat
sistem pencatatan yang belum terintegrasi.
Ia mengungkapkan bahwa seringkali
terjadi double counting (pendataan ganda), di mana satu pasien yang sama
tercatat beberapa kali karena melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan yang
berbeda.
“Bisa saja satu orang tercatat
dua kali karena periksa di tempat berbeda. Ini yang sedang kita perbaiki. Kita
memiliki waktu enam bulan untuk memastikan validasi data satu kasus benar-benar
akurat,” jelasnya.
Bupati optimis bahwa jika sistem
pendataan telah diperbaiki, progres penurunan malaria di Mimika sebenarnya
sudah menunjukkan tren positif. Validasi data ini krusial agar kebijakan yang
diambil tepat sasaran dan mencerminkan realitas di lapangan.
“Bisa saja sebenarnya angka kita
sudah turun, tapi karena data belum baik, terlihat masih tinggi. Dengan
pembenahan sistem ini, kami yakin target penurunan hingga 5 persen menuju
eliminasi 2030 dapat tercapai,” pungkasnya. (HK)








