GORONTALO, wartamimika.com
— Komoditas pangan lokal asal Kabupaten Mimika, Papua Tengah, kembali mencuri
perhatian di panggung nasional. Melalui ajang Pekan Nasional (Penas) Petani
Nelayan XVII 2026 yang digelar di Gorontalo, tepung sagu murni produksi lokal
Mimika dipamerkan sebagai salah satu produk unggulan yang potensial mendukung
ketahanan pangan.
Adalah Kasianus Maopeyauta,
seorang pengusaha tangguh dari suku Kamoro, yang berada di balik kesuksesan
tersebut. Kasianus hadir sebagai Ketua Kelompok Usaha Paweyari, sebuah kelompok
usaha binaan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) serta
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Mimika.
Di stan pameran Kabupaten Mimika
pada Kamis (19/06/2026), Kasianus tampak antusias mengenalkan produk tepung
sagu buatannya kepada para pengunjung. Baginya, Penas XVII Gorontalo bukan
sekadar ajang pameran biasa, melainkan bukti konsistensi usahanya yang telah
dirintis sejak satu dekade lalu.
Memulai usaha sejak tahun 2016,
Kasianus bersama Kelompok Usaha Paweyari kini mengelola fasilitas Rumah Sagu
yang terletak di Kelurahan Wania RT 02 Mapurujaya, Distrik Mimika Timur.
Fasilitas modern ini telah dilengkapi dengan mesin pengolahan sagu guna memastikan
produksi tepung berkualitas tinggi.
Pameran di Gorontalo ini
menggenapi catatan panjang perjalanan produk Paweyari di level nasional.
"Kami datang ke sini membawa
produk tepung sagu. Ini sudah kesekian kalinya kami ikut pameran nasional.
Pertama kali tahun 2017 di Aceh, kedua di Kalimantan, ketiga di Sumatera
Selatan, lalu kemarin di Bandung dan Malang, dan sekarang kami sampai di
Gorontalo," ujar Kasianus dengan nada bangga.
Sebagai putra asli suku Kamoro,
Kasianus mengaku sangat terharu dan bangga bisa membawa nama daerahnya sejauh
ini. Ia pun menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Pemerintah Kabupaten
Mimika atas dukungan penuh yang diberikan.
"Saya merasa bangga hari ini
bisa sampai di Gorontalo untuk memamerkan produk kami. Terima kasih kepada
Pemerintah Kabupaten Mimika, dalam hal ini Bapak Bupati dan Dinas Tanaman
Pangan yang terus membina kami hingga bisa ada di sini," ungkapnya.
Keberhasilan Kelompok Usaha
Paweyari bertahan dan berkembang hingga saat ini tidak lepas dari intervensi
fasilitas yang diberikan oleh pemerintah daerah dan mitra binaan. Kasianus
membeberkan bahwa mereka telah menerima bantuan krusial berupa rumah produksi,
akses air bersih, hingga mesin parut sagu.
Saat ini, kapasitas produksi
tepung sagu Paweyari sudah cukup besar. Di Timika sendiri, produk mereka telah
berhasil menembus pasar modern.
"Untuk pemasaran, sementara
ini masih di sekitar Timika. Kami sudah menyuplai ke beberapa mall dan
pertokoan di sana. Selain itu, kami juga mulai melayani pasar luar daerah
berdasarkan sistem pesanan (PO). Jika ada pesanan masuk, misalnya sekitar 30
karung, kami langsung produksi dan kirim," jelasnya.
Kabupaten Mimika memang dikenal
memiliki potensi hutan sagu yang sangat melimpah. Potensi alam yang masif ini
dimanfaatkan secara optimal oleh Kasianus untuk melakukan diversifikasi produk.
Tepung sagu yang dihasilkan tidak hanya dijual mentah, melainkan diolah menjadi
berbagai produk turunan bernilai ekonomi tinggi.
"Sagu di Timika sangat
melimpah. Dari sagu yang kami olah, selain jadi tepung, bisa dikembangkan lagi
menjadi keripik, kerupuk, hingga kue bolu besar," pungkas Kasianus
optimis.
Kehadiran tepung sagu Mimika di
Penas XVII Gorontalo ini diharapkan dapat membuka keran investasi dan
memperluas jaringan pasar secara nasional, sekaligus menegaskan bahwa pangan
lokal Papua siap menjadi pilar ketahanan pangan Indonesia masa depan. (HK)












