TIMIKA, wartamimika – Gedung Eme Neme Yauware menjadi saksi bisu sebuah momentum bersejarah bagi masyarakat Kepulauan Tanimbar di tanah rantau. Pada Kamis (29/1/2026), Badan Pengurus Ikatan Kerukunan Kepulauan Tanimbar (IKKT) periode 2026–2031 resmi dilantik dalam suasana yang penuh khidmat dan kental dengan nuansa budaya.
Mengangkat tema “Membangun Persaudaraan yang Tangguh di Tanah Amungsa dan Bumi Kamoro”, pelantikan ini bukan sekadar seremoni pergantian kepemimpinan. Ia adalah sebuah pernyataan sikap tentang persatuan, kontribusi, dan penghormatan terhadap tanah tempat mereka berpijak.
Ketua Definitif IKKT, Eus Berkasa, S.H., M.H., dalam orasi kepemimpinannya menegaskan visi besar yang akan diusung selama lima tahun ke depan. Ia bermimpi menjadikan IKKT sebagai rumah besar yang mampu merangkul seluruh warga Tanimbar di Kabupaten Mimika tanpa terkecuali.
"IKKT harus menjadi rumah bagi semua warga Tanimbar di Mimika. Kita harus terhimpun dalam satu ikatan yang kuat agar setiap aspirasi bisa diwujudkan melalui program kerja yang nyata dan terukur," tegas Eus.
Langkah konkret pun telah disiapkan. Dalam tiga bulan pertama, pengurus akan fokus pada pendataan warga yang diperkirakan mencapai 12.000 jiwa. Selanjutnya, penguatan legalitas pilar-pilar di tingkat kecamatan dan kampung akan menjadi prioritas dalam enam bulan ke depan.
Visi Eus Berkasa melampaui sekadar urusan administratif. Ke depan, IKKT berencana:
- Pemberdayaan Ekonomi: Membentuk koperasi untuk mengelola komoditas perikanan dan pertanian agar warga Tanimbar memiliki daya tawar ekonomi yang lebih baik.
- Pelestarian Identitas: Membentuk sanggar seni budaya guna menjaga warisan leluhur tetap hidup di perantauan.
- Simbol Fisik: Menargetkan pembangunan sekretariat atau rumah adat sebagai pusat aktivitas dan identitas fisik warga.
Sadar akan posisinya sebagai pendatang, Eus Berkasa menitipkan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga stabilitas keamanan. Ia menginstruksikan seluruh warga Tanimbar untuk senantiasa menghormati masyarakat adat Amungme dan Kamoro sebagai pemilik rumah.
"Kita datang untuk mencari penghidupan yang layak. Maka, wajib bagi kita untuk memberikan pelayanan terbaik, menjaga ketertiban, dan menjauhkan diri dari konflik," pesannya.
Di tengah kemeriahan acara yang diwarnai tarian tradisional, terselip sebuah catatan penting. Sekretaris Panitia, Johnes Mantela, menyayangkan absennya perwakilan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar dalam momen krusial ini.
Menurut Johnes, kehadiran pemerintah daerah asal sangat dinantikan sebagai bentuk dukungan moril bagi warga di perantauan. Ia berharap ke depannya ada sinergi antara Pemkab Tanimbar dan Pemkab Mimika, terutama dalam mendukung pemasaran hasil bumi khas Tanimbar agar dapat menembus pasar lokal Timika dengan lebih optimal.
