| Keluarga Bupati Mimika, Johannes Rettob, S.Sos., M.M., saat foto bersama 5 tokoh agama saat perayaan Imlek dan Doa Lintas Agama, Selasa (17/02/2026). Foto: HK |
TIMIKA, wartamimika.com – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Pendopo Rumah Dinas Bupati Mimika di SP3, Selasa (17/02/2026). Bupati Mimika, Johannes Rettob, S.Sos., M.M., bersama Ny. Susy Susana Herawati Rettob, menggelar syukuran Tahun Baru Imlek yang dipadukan dengan doa lintas agama sebagai simbol eratnya toleransi di Tanah Mimika.
Acara yang mengusung tema "Harmoni Imlek Nusantara" ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh lima tokoh agama. Kemeriahan semakin memuncak saat aliansi Kungfu Tradisional Indonesia (AKTI) menyuguhkan atraksi wushu yang tangkas dan tarian barongsai yang memikat perhatian tamu undangan, termasuk jajaran Forkopimda dan pimpinan OPD.
Dalam sambutannya, Bupati Johannes Rettob menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran seluruh elemen masyarakat. Beliau juga menjelaskan latar belakang pribadinya yang memiliki kedekatan kultural dengan tradisi Tionghoa.
"Saya ini 'Hitachi', hitam tapi Cina. Jadi saya harus ikut Ibu (istri) ini, kalau tidak nanti dia marah. Imlek ini sebenarnya adalah tahun baru Tionghoa sekaligus budaya tradisi. Kita bersyukur bisa berkumpul di sini dalam bingkai keberagaman," ujar Bupati Rettob seloroh yang disambut tawa hangat hadirin.
Bupati juga menekankan pentingnya mempertahankan predikat Mimika sebagai salah satu kabupaten paling toleran di Indonesia.
"Kita kebetulan ditetapkan sebagai kabupaten yang terharmoni di Indonesia. Ke depan, setiap acara akan kita buat doa lintas agama seperti ini untuk membuktikan bahwa di Mimika kita sangat harmoni. Apapun agama, suku, dan bahasanya, kita adalah satu warga Mimika yang menjadikan kabupaten ini sebagai rumah kita bersama," tegasnya.
Di tengah suasana perayaan, Bupati juga memanfaatkan momentum ini untuk mengklarifikasi isu-isu miring yang beredar di media sosial mengenai gangguan keamanan di wilayah Mimika Barat Tengah (Kapiraya). Beliau memastikan bahwa kondisi di lapangan tetap aman dan terkendali.
"Jangan percaya isu-isu di media sosial. Mimika ini aman. Ada kelompok kecil yang sengaja membangun opini seolah Mimika tidak baik-baik saja, bahkan sampai ada isu bupati membekingi dengan senjata api. Tuhan, saya bawa senjata api dari mana? Persoalan di sana bukan tapal batas, tapi ada kepentingan terkait 'harta karun' di sana. Saya minta masyarakat jangan terprovokasi," jelas Johannes Rettob dengan nada serius.
Menutup rangkaian acara, Bupati mengajak seluruh tamu untuk menikmati hidangan khas Imlek, terutama jeruk dan pisang yang ditata rapi. Beliau menyebut buah-buahan tersebut bukan sekadar makanan, melainkan simbol kemakmuran dan perdamaian.
"Ini lambang persatuan dan kemakmuran. Sebentar Bapak Ibu harus makan. Kalau ada keluarga yang sedang perang di rumah, pulang ambil jeruk ini, makan, langsung damai di rumah," tutupnya sembari mengajak tamu meneriakkan "Gong Xi Fa Cai" bersama-sama.
Perayaan ini menjadi potret nyata bagaimana tradisi budaya dapat menjadi perekat sosial yang kuat, menyatukan seluruh golongan dalam doa dan harapan untuk Mimika yang lebih sejahtera. (HK)
