SINGKAWANG, wartamimika.com - Kehadiran Bupati Mimika, Johannes Rettob, di forum Konferensi Kota Toleran (KKT) 2025 di Kota Singkawang, Minggu (16/11), berhasil mencuri perhatian peserta nasional. Dengan bangga, Buoati memaparkan Mimika sebagai mozaik kehidupan yang harmonis, menegaskan bahwa keberagaman bukan sekadar status, melainkan kekuatan inti daerahnya di Papua Tengah.
KKT 2025, yang digagas oleh
SETARA Institute dan berlangsung di ‘Kota Seribu Kelenteng’ Singkawang,
mempertemukan pemerintah daerah se-Indonesia untuk berbagi praktik terbaik
dalam membangun ekosistem toleransi.
Bupati John membuka paparannya
dengan menekankan betapa luar biasanya heterogenitas Mimika. "Seluruh suku
bangsa, dari Aceh sampai Papua, bahkan komunitas terkecil pun ada di Mimika.
Ada sekitar 52 kerukunan yang kami naungi," ungkapnya.
Keragaman ini juga tercermin
dalam komposisi demografi agama yang hidup berdampingan. Data yang dipaparkan
menunjukkan penganut Kristen (48,07%), Islam (28,09%), dan Katolik (22,76%),
bersama dengan Hindu, Buddha, dan Konghucu, semuanya rukun dalam satu wilayah.
Bupati John lantas melontarkan
seloroh yang disambut tawa peserta. "Kalau Singkawang berjuluk Seribu
Kelenteng, Lombok Seribu Masjid, kalau kami di Mimika ‘Sejuta Gereja’. Mengapa
demikian, karena gereja ada di mana-mana," ujarnya, menggambarkan betapa
kuatnya denyut spiritual di Timika, ibu kota Mimika.
Bupati Mimika menekankan bahwa harmoni
di daerahnya jauh dari sekadar slogan. Ia menyebutnya sebagai budaya bersama
yang teraplikasi dalam aksi nyata.
Bupati mencontohkan, perayaan
hari raya besar di Mimika selalu melibatkan lintas agama. "Perayaan Natal
dan Paskah, semua agama terlibat. Pawai obor saat Paskah, semua lintas agama
ikut konvoi. Begitu juga pawai takbir saat Ramadan, semua ikut bersama-sama,”
jelasnya.
Puncak dari solidaritas ini
terlihat dalam kerja sama pengamanan rumah ibadah saat hari raya keagamaan.
"Semua terlibat, dari agama manapun. Ini supaya semua masyarakat merasa
bahwa kita itu satu, tidak boleh pisah-pisah," tegasnya. Selain itu, doa
lintas agama juga telah menjadi pembiasaan dalam setiap momen resmi sebagai
simbol persatuan.
Komitmen Pemerintah Kabupaten
Mimika terhadap ekosistem toleransi diperkuat dengan dukungan anggaran yang
signifikan.
Tahun ini, Pemkab Mimika telah
menyalurkan dana hampir Rp3 miliar kepada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)
untuk memperkuat program kerukunan antarumat beragama. Tak hanya itu,
pemerintah juga memberikan insentif kepada sekitar 1.000 tokoh agama dari lima
agama besar. "Tahun depan kemungkinan akan meningkat, kami sementara
melakukan pendataan," imbuhnya.
Semua komitmen ini terangkum
dalam tagline daerah: “Mimika Rumah Kita”. Tagline ini merupakan implementasi
dari moto daerah dalam bahasa setempat, ‘Eme Neme Yauware’ yang berarti
bersatu, bersaudara, membangun. John bahkan menciptakan sebuah lagu berjudul
sama untuk menggambarkan keindahan keberagaman di daerahnya.
"Dalam Mimika Rumah Kita,
tidak boleh ada orang sakit, lapar, atau bodoh. Semua dari berbagai budaya,
agama, bahasa yang ada, harus bersama-sama menjaga rumah besar ini,"
pungkas Bupati John, menutup paparannya dengan pesan persatuan yang mendalam.
