TIMIKA — Di tengah gempuran modernisasi zaman, seni kriya tradisional Papua terus berdenyut melalui tangan-tangan terampil perajin lokal. Salah satunya ditunjukkan oleh Anton Wautuka, seorang perajin ukir dan noken asal Timika yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga warisan budaya leluhur. Bagi Anton, setiap karya yang ia hasilkan bukan sekadar komoditas bernilai ekonomis, melainkan jejak sejarah dan identitas spiritual yang wajib diwariskan lintas generasi agar tidak punah.
Karya-karya Anton sarat akan makna adat yang mendalam. Ia aktif membuat patung sakral Bitoro sebagai simbol ritual pendewasaan anak, serta memahat Deng Wemawe, patung figur manusia yang diyakini menyimpan keterikatan spiritual dengan roh leluhur. Selain seni pahat kayu, ia dan para perempuan setempat juga melestarikan tauri—penutup tubuh dari daun rumbai—serta noken yang dianyam dari serat rumput hutan dengan pelbagai motif alam khas, seperti jari keraka, jari buaya, hingga sisik ikan.
Meski karya ukirannya telah menembus pasar mancanegara dan tersimpan di berbagai museum luar negeri, Anton menaruh perhatian serius pada masa depan seni tradisional ini. Ia mendorong pemerintah daerah untuk melakukan pendataan dan pemetaan motif kerajinan lokal secara sistematis. Langkah ini dinilai krusial agar asal-usul setiap karya seni serta identitas perajin aslinya dapat teridentifikasi dengan jelas, sekaligus melindungi keaslian warisan budaya Papua dari klaim pihak luar.
Tags
Narasi Foto

